BERTAHAN DALAM PERSAINGAN

KETUT JOHANIAWAN, ST 05 Juli 2018 10:06:20 WITA

Salah satu makanan khas Indonesia yang sangat umum yang bias kita temukan adalah tempe. Tempe adalah makanan yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai atau beberapa bahan lain yang menggunakan beberapa jenis kapang Rhizopus, seperti Rhizopus oligosporusRh. oryzaeRh. stolonifer (kapang roti), atau Rh. arrhizus. Sediaan fermentasi ini secara umum dikenal sebagai "ragi tempe" (Wikipedia). Asal usul tempe tidak jelas kapan pembuatan tempe dimulai. Namun, makanan tradisonal ini sudah dikenal sejak berabad-abad lalu, terutama dalam tatanan budaya makan masyarakat Jawa, khususnya di Yogyakarta dan Surakarta (Wikipedia).

Di Desa Jagaraga masih terdapat usaha pembuatan tempe dan tahu yang berada di wilayah Banjar Dinas Kauh Luan. Usaha tersebut ditekuni oleh keluarga bapak Ketut Wiarsa. Beliau mewarisi usaha dari bapaknya Alm. Mangku Made Gereh sejak tahun 2000. Menurut keterangan pak Ketut Wiarsa, usaha pembuatan tempe bapaknya dimuali pada tahun 1965, sebelum beliau (Mangku Gede Gereh) memulai usaha pembuatan tempe, beliau dan saudaranya Gede Giur bekerja sebagai buruh pembuat tempe dan tahu di desa jagaraga milik Alm. Made Pasek. Alm. Made Pasek merupakan pelopor usaha pembuatan tempe dan tahu di Desa Jagaraga, sehingga beliau di kenal dengan nama Pasek Tempe. Setelah sekian lama bekerja sebagai buruh pembuat tempe dan tahu serta pengalaman dalam proses pembuatan tempe dan tahu yang dirasa cukup, beliau dan saudaranya dengan modal seadanya memberanikan diri membuat usaha sendiri. Untuk mengindari persaingan usaha dalam keluarga, maka beliau khusus membuat tempe sedangkan saudaranya khusus membuat tahu. Selain beliau dan saudaranya, ada juga beberapa masyarakat yang mengikuti jejak beliau menjadi pengusaha tempe tahu, namun karena persaingan dan harga bahan baku yang terus meningkat, hanya usaha tempe dan tahu keluarga beliau yang masih bertahan sampai saat ini. Dengan kegigihan dan keuletan beliau dalam menjalankan usaha, beliau mampu menghidupi keluarga dengan 5 (lima) orang anak.

Pembuatan tempe dan tahu pak Ketut Wiarsa masih dilakukan secara tradisional dan tanpa menggunakan bahan pengawet, hanya saja pada saat pengupasan dan pembelahan ada sentuhan mesin, itu dilakukan untuk meningkatkan produktivitas. Tempe dan tahu tanpa pengawet memang memiliki kelemahan pada daya tahan, namun dari segi rasa dan kesehatan memiliki kelebihan.  

Saat di tanya kenapa usaha pembuatan tempe dan tahu bisa bertahan hingga sekarang, melanjutkan usaha rintisan dari orangtua dengan tetap mempertahankan kualitas tempe yang masih alami tanpa mengunakan pengawet dan pewarna adalah alasan mengapa usaha tempe dan tahu ini masih berjalan ditengah persaingan tempe dari kota. tegas Pak Ketut Wiarsa yang juga menjabat sebagai Kelian Banjar Dinas Kauh Luan.

Komentar atas BERTAHAN DALAM PERSAINGAN

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
 

Layanan Mandiri


Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Masukkan NIK dan PIN!

Media Sosial

FacebookTwitterYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Jumlah Pengunjung

Lokasi Jagaraga

tampilkan dalam peta lebih besar