Menelisik Tari Taruna Jaya, Jangan hanya sebatas Kebanggaan

KETUT JOHANIAWAN, ST 27 Februari 2019 11:14:09 WITA

Tari Taruna Jaya adalah merupakan tari yang menjadi kebanggaan warga masyarakat desa jagaraga pada khususnya. Kenapa demikian, karena tari Taruna Jaya merupakan tarian hasil karya putra jagaraga yang sekarang tarian ini sudah terkenal sampai ke mancanegara, dan menjadi salah satu magnet pariwisata di Bali.

Tari Tarunajaya memang adalah karya tari unggul yang masih mempesona, sering dipentaskan hingga hari ini. Ekspresi estetik yang disajikan dan gelora optimistik yang dipancarkan masih menggugah. Cipta tari yang cikal bakalnya menguak dari Bali Utara sebelum zaman kemerdekaan itu, berhasil menembus selera estetik masyarakat Bali secara lintas zaman. Tari Trunajaya menggambarkan gerak gerik seorang pemuda yang baru menginjak dewasa. Gerakannya menggambarkan prilaku seorang remaja yang enerjik, penuh emosional dan ulahnya senantiasa untuk memikat hati seorang gadis. Tari Trunajaya termasuk tari putra keras yang biasa ditarikan oleh penari putri. Tari Trunajaya termasuk dalam kategori tari Balih-balihan atau sebagai tari hiburan. Sebagai tari hiburan tarian ini dapat dipentaskan dimana saja. Misalnya di halaman pura, di lapangan atau panggung tertutup/terbuka, dan di tempat- tempat lainnya.

Awal kemunculannya tari Tarunajaya didahului oleh hadirnya tari Kebyar Legong. Tersebutlah seorang seniman dari Desa Jagaraga, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng yang bernama I Wayan Paraupan atau  Pan Wandres. Pada tahun 1915, seniman tabuh dan tari tersebut menciptakan sebuah tarian yang dibawakan oleh dua orang penari yang mengkombinasikan tari Baris, Jauk, dan Legong.

I Gede Manik, bersama pasangannya, Mangku Ongka, adalah penari pertama dari tari Kebyar Legong. Pada tahun 1925, Gede Manik menunjukkan jati dirinya sebagai seorang kreator tari. Berorientasi dari tari Kebyar Legong yang sering dibawakannya, ia menggagas karya tari Kebyar Legong versi lain, lebih pendek durasinya namun tetap menunjukkan karakteristik tari yang dinamis.

Sekitar tahun 1950, didepan Bung Karno dan tamu-tamunya di sebuah hotel di Denpasar. Presiden Pertama Republik Indonesia yang dikenal sebagai penyayang seni itu dipertontokan sebuah tarian. Tak mampu menyembunyikan ekspresi takjubnya terhadap pentas tari yang begitu energik dengan dukungan tatabuhan gamelan yang gegap membuncah itu. Soekarno sangat mengagumi sajian tari tunggal tersebut. Presiden yang yang ibunya juga berasal dari Buleleng, Bali itu kemudian memberi nama seni tari ciptaan I Gede Manik dari Desa Jagaraga, Buleleng, ini dengan sebutan Tarunajaya, yang memiliki arti taruna yang digjaya. Awalnya, tarian ini tidak memiliki nama, hanya disebut sebagai tari Kebyar Dangin Enjung.

Karena berkat keuletan dan kegigihannya dalam bidang seni, tak heran I Gede Manik telah meraih beberapa penghargaan, seperti Anugerah Seni dari Mendikbud RI, Mashuri (1969); Wija Kusuma dari Bupati Buleleng, I Nyoman Tastra (1981); Dharma Kusuma dari Gubernur Bali, Ida Bagus Mantra (1981), dan Satya Lencana (2003) dari Presiden RI, Megawati Soekarno Putri.

Karena begitu terkenalnya hingga sampai saat ini dibandingkan dengan tari sezamannya, Tarunajaya masih menunjukkan kedigjayaannya di usianya yang lebih dari setengah abad. Di berbagai sekolah dan institut seni dan sanggar-sanggar seni, tari ini diteruskan dari generasi ke generasi. Tari Taruna Jaya juga sering ditampilkan dalam lomba-lomba tari Bali. Yang mengagumkan, daya pesonanya di tengah masyarakat tak pernah redup, tetap bergelora. Perpaduan antara kebyar yang berirama penyemangat dengan gerakan tari yang enerjik, menjadikan tari Taruna Jaya mampu menyihir para penontonnya juga ikut terbawa emosinya.

Sebagai masyarakat dan generasi penerus, kebanggaan saja tidak cukup. Yang terpenting adalah keberadaan tari dan gong kebyar yang kita banggakan itu tetap ada hingga anak cucu kita. Dan Desa Jagaraga sebagai tanah kelahiran I Wayan Praupan (Pan Wandres) dan I Gede Manik mampu melahirkan kembali maestro-maestro seni lainnya. Dan  yang bisa kita lakukan adalah mulailah melatih, mengajar anak kita untuk mencintai seni. Seni yang sebenarnya, seni yang bukan bertujuan untuk menghasilkan uang semata, tetapi seni yang dihasilkan dengan ikhlas hingga menghasilkan hasil seni yang berkualitas.

Sumber : Diolah dari berbagai sumber (ISI Denpasar)

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
 

Layanan Mandiri


Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Masukkan NIK dan PIN!

Media Sosial

FacebookTwitterYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Jumlah Pengunjung

Lokasi Jagaraga

tampilkan dalam peta lebih besar