16 Ogoh-Ogoh Memeriahkan Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1941

KETUT JOHANIAWAN, ST 05 Maret 2019 13:58:35 WITA

Hari Raya Nyepi adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap tahun Baru Saka. Hari ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa intisari amerta air hidup. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka. Nyepi berasal dari kata sepi (sunyi, senyap). Hari Raya Nyepi sebenarnya merupakan perayaan 

Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan/kalender caka, yang dimulai sejak tahun 78 Masehi. Tidak seperti perayaan tahun baru Masehi, Tahun Baru Saka di Bali dimulai dengan menyepi. Tidak ada aktivitas seperti biasa. Semua kegiatan ditiadakan, termasuk pelayanan umum, seperti Bandar Udara Internasional pun tutup, namun tidak untuk rumah sakit. Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta). Sebelum Hari Raya Nyepi, terdapat beberapa rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu, khususnya di daerah Bali.

Beberapa hari sebelum pelaksanaan Hari Raya Nyepi, umat Hindu dibali melaksanakan yang namanya Penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis. Pada hari tersebut, segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) diarak ke pantai atau danau, karena laut atau danau adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa menyucikan segala leteh (kotor) di dalam diri manusia dan alam. Namun di Desa Jagaraga, kegiatan Melasti dilaksanakan setelah Nyepi menjelang purnama ke-dasa. Mungkin hal ini dilakukan karena pada purnama ke-dasa dilaksanakan Upacara Puja Wali di Pura Desa/Bale Agung dan Pura Puseh.

Sehari sebelum Nyepi, yaitu pada "tilem sasih kesanga" (bulan mati yang ke-9) tanggal masehi 06 Maret 2019 adalah hari Pangerupukan dimana umat Hindu pada hari tersebut melaksanakan upacara Buta Yadnya di segala tingkatan masyarakat, mulai dari masing-masing keluarga, banjar, desa, kecamatan, dan seterusnya, dengan mengambil salah satu dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya. Buta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar). Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisuda Buta Kala, dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Setelah upacara pecaruan di perempatan, barulah kemudian ogoh-ogoh diarak mengelilingi desa.

Untuk tahun ini sebanyak 16 ogoh-ogoh dari 5 banjar dinas ikut serta memeriahkan penyambutan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1941. Jumlah ogoh-ogoh tahun ini lebih sedikit dibandingkan ogoh-ogoh pada tahun sebelumnya yang berjumlah 19 ogoh-ogoh. Sebagai bentuk dukungan dan apresiasi kepada pemuda-pemudi, karang taruna, dan truna-truni, pemerintah desa memberikan bantuan berupa barang yang dibutuhkan dalam pembuatan ogoh-ogoh seperti bambu, kayu, dan lainnya. Diharapkan dengan bantuan itu, kreativitas para pemuda dalam melestarikan adat dan budaya tetap terjaga.

Pada Hari Raya Nyepi, yaitu pada pinanggal pisansasih Kedasa (tanggal 1, bulan ke-10) tanggal masehi 07 Maret 2019, Pada hari ini suasana seperti mati. Tidak ada kesibukan aktivitas seperti biasa. Pada hari ini umat Hindu melaksanakan "Catur Brata" Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api) yang memiliki makna salah satu kewajiban yang harus dilakukan oleh umat Hindu saat brata penyepian. Api yang dimaksud disini, bukan hanya api yang kita lihat secara nyata, tetapi juga mengarah pada sifat atau ego manusia. Seperti misalnya tidak diperkenankan marah, atau cemburuh yang dapat mengakibatkan keributan atau melukai orang lain, amati karya (tidak bekerja) yang memiliki makna tidak melakukan aktifitas pekerjaan dan evaluasi diri dalam kaitan dengan karya (kerja menurut swadharma kita masing-masing) merenung hasil kerja dalam setahun, amati lelungan (tidak bepergian) yang memiliki makna Orang yang melaksanakan penyedian tidak boleh bepergian, baik itu keluar rumah ataupun sejenisnya. Hal ini, dilakukan agar fikiran manusia tidak liar, dan bisa mengendalikan hal-hal yang negatif., dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan) yang memiliki makna tidak melakukan kegiatan, baik berupa makan, minum,nonton tv, megang Hp dan lain sebagainya. Sebab Brata Penyepian dimaksukan sebagai sarana untuk melakukan Tapa Brata artinya tidak melakukan segala hal. Hendaknya pada waktu penyepian orang berpuasa dan melakukan samadhi (duduk bersila dalam bentuk meditasi).

Demikianlah untuk masa baru, benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam tahun baru Caka pun, dasar ini dipergunakan, sehingga semua yang kita lakukan berawal dari tidak ada,suci dan bersih. Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa jñana) melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga (menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan)), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin). Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan pada tahun yang baru.

Keesokan harinya setelah Hari Raya Nyepi adalah hari Ngembak Geni yang jatuh pada "pinanggal ping kalih" (tanggal 2) sasih kedasa (bulan X). Pada hari ini Tahun Baru Saka tersebut memasuki hari ke dua. Umat Hindu melakukan Dharma Shanti dengan keluarga besar dan tetangga, mengucap syukur dan saling maaf memaafkan (ksama) satu sama lain, untuk memulai lembaran tahun baru yang bersih. Inti Dharma Santi adalah filsafat Tattwamasi yang memandang bahwa semua manusia di seluruh penjuru bumi sebagai ciptaan Ida Sanghyang Widhi Wasa hendaknya saling menyayangi satu dengan yang lain, memaafkan segala kesalahan dan kekeliruan. 

Melalui perayaan Nyepi Tahun Baru Caka 1941, umat Hindu setelah melaksanakan Catur Berata Penyepian menjalani tahun yang baru dengan menjadi umat yang lebih baik dari tahun sebelumnya.

 

Sumber : diolah dari berbagai sumber.

Komentar atas 16 Ogoh-Ogoh Memeriahkan Perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1941

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
 

Layanan Mandiri


Silakan datang / hubungi perangkat Desa untuk mendapatkan kode PIN Anda.

Masukkan NIK dan PIN!

Media Sosial

FacebookTwitterYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Jumlah Pengunjung

Lokasi Jagaraga

tampilkan dalam peta lebih besar